Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995 || Ulasan Buku/ Indonesian Language Book Review

Hello and welcome to my dusty book blog. I’m here today to review one of my top favourite Indonesian book series. It’s unusual for me to thoroughly enjoy cringey novels but here we are today. Pidi Baiq has that magic touch that will make you smile like a fool throughout the book with his charming main character, Dilan. His writing style is so beautiful. Moreover, the language and jargon used is not difficult to understand either for me, as I’m a Malaysian and not an Indonesian. Everything moves so nicely, the pacing, the ups and downs, the dramas in this book are all well done. Not to say these books are perfect, there are moments where I feel it is a bit too dramatic but again it will always end up with me loving his writing. Despite me giving the average rating of 3.5 star, I always want more of the stories of Dilan and crave even more of Pidi Baiq’a writing. Below are my short reviews of Book 1 to 3 of this series and for his latest book in this series, Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995, I’m going to write a longer review here in this blog post.

Book 1: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Book 2: Bagian Kedua Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Book 3: Milea: Suara Dari Dilan

Book 4: Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995

Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995

Author: Pidi Baiq

Publisher: Pastel Books

Released: August 2021

Genre: Fiction

Pages: 340

Format: Paperback

Characters: Ancika, Dilan, Mama, Bunda, Mang Anwar, Ayah, Yadit, Bono, Indri, Bagas, …

Setelah putus dengan Milea, Dilan menjalin persahabatan dengan Ancika Mehrunisa Rabu, yang kemudian berkembang menjadi kisah cinta. Kisah Dilan bersama Ancika ini kemudian ditulis oleh Ayah Pidi Baiq dalam novel berjudul Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995. Ancika akan menceritakan kisahnya bersama Dilan ketika Ancika berumur 17 tahun dan masih seorang siswi SMA. Dilan sendiri, saat itu, sedang berkuliah di ITB. Sosok Ancika tidak kalah menarik daripada Dilan. Dilan dan Ancika seolah-olah memang diciptakan untuk saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lain. Apakah Ancika adalah alasan satu-satunya mengapa Dilan tidak bisa balikan dengan Milea?

Source: Goodreads

Sejujurnya, setelah diliat lagi reviu aku sebelum ini sih jadi biasa aja ya series Dilan ini tapi penulisan Pidi Baiq itu menyenangkan banget, kayaknya ada sesuatu yang mempesonakan yang membuat aku terus tertarik akan kisah-kisah Dilan. Pada saat mulanya aku baca buku ini, bagi aku, Ancika ini seorang yang keras kepala dan agak sedikit egois atau self centered kerna semuanya bermula dari ‘saya’. Terlalu banyak ‘saya’ yang digunakan oleh penulis. Namun, aku tahu Ancika sudah jauh lebih baik dari Milea yang agak kurang matang. Ancika karakternya lebih mandiri dan lebih berpendirian. Aku suka akan perwatakannya yang sebegitu.

“Di sekolah dapat pelajaran dulu, baru ujian. Enak. Di kehidupan, beda. Ujian dulu, baru dapat pelajaran.”

– Pidi Baiq, Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995

Dilan, seperti biasanya, tipe cowok idaman wanita seluruh dunia. Dia sempurna dan charming. Mungkin ada kelemahannya, namun dia memang boyfriend material, ga bisa dinafikan lagi. Cuman satu persoalanku untuk penulis, di mana sih bisa cewek-cewek menemukan cowok kaya Dilan? Terlalu kejam sih pak penulis membiarkan pembaca cewek jadi tinggi standardnya, mahunya cowok seperti Dilan aja. Haha.

Jalan cerita Ancika ini lebih kurang sama dengan kisah cintanya Milea dan Dilan, cuma bedanya umur dan pengalaman kedua watak Dilan dan Ancika. Bagi aku sih, baca Ancika ini seperti ulang kembali pengalaman Dilan dan Milea cuman diberikan beberapa perubahan dan semudah itu, wujudnya kisah cinta yang baru. Walaupun begitu, aku tetap aja suka sama ceritanya. Ini kelebihan Pidi Baiq atau mungkin efeknya ke aku itu terlalu berpengaruh. Aku letak critical dan analytical thinking aku di suatu sudut dan baca buku ini dengan persepsi yang santai, gak terlalu mikirin atau mencari kesalahan gitu ya. Kerna aku mau nikmati penulisan Pidi Baiq dan kisah Dilan yang satu ini.

“Kalau ada yang bilang, cinta menyakitkan, nyatanya orang tetep aja menikmatinya.”

– Pidi Baiq, Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995

Makanya, aku jadi terhibur dan sering senyum sendiri pas lagi baca Ancika. Humour Pidi Baiq itu bagus banget dan adegan yang cringey jadi lumayan untuk dibaca dan dibayangin. Sepanjang aku baca buku ini, momen frustasi itu jauh lebih kurang dibandingkan dengan kisah Dilan dan Milea. Mungkin ini salah satu perkembangan yang ingin Pidi Baiq sampaikan juga, di mana setelah kita lebih dewasa pasti lebih banyak perkara akan berubah, termasuk mentaliti serta perlakuan kita, sama seperti watak di dalam buku keempat ini. Kebanyakannya lebih matang dan jauh lebih rasional.

Untuk sisi yang aku kurang suka ialah aku merasakan drama-drama dalam hidup Ancika yang digilai ramai lelaki itu biasa aja. Mungkin seperti yang aku bilang tadi, itu udah ada dalam kisah Milea, yang juga sering diganggu sama cowok-cowok yang naksir sama dia. Aku juga menemukan tarikh yang gak disusun mengikut kronologi penceritaan. Kerna di hujung kisah, Pidi Baiq menyelitkan isu-isu politik Indonesia yang mungkin melibatkan beberapa tarikh yang penting pada tahun 1998. Namun, di bab 11, tarikh yang diberikan lebih lewat dari tarikh di bab 12. Di situ, aku agak kecewa kerna mungkin terlepas pandang oleh editor untuk mengubah tarikh di bab 11 menjadi lebih awal sesuai mengikut tarikh sejarah politik yang diselitkan di penghujung cerita.

“Fantasi adalah bagian penting dan perlu untuk kita menikmati kehidupan.”

– Pidi Baiq, Ancika: Dia Yang Bersamaku Tahun 1995

Secara keseluruhannya, aku tetap aja senang dengan kisah Ancika dan Dilan kerna sudah membuat aku tersenyum sendiri dan banyak ketawa. Ada juga beberapa pengajaran serta tips yang aku dapat dari buku ini. Kalau diikutkan pengakhiran kisah Ancika, kayanya udah selesai sih cerita Dilan, tapi kalau Pidi Baiq masih menghasilkan satu lagi sambungan kisah Dilan, aku pasti akan beli dan baca!

I‘m sorry for my international readers, I just feel like want to write this review in Indonesian language and I’m just purely lazy to translate it. Until the next review okay? To my Indonesian friends, sorry if I did this review poorly, I’m honestly just trying out here. If you’d like to correct me, please just shoot it away!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s